BiodataViral – #Irwan Prasetiyo #adalah #seorang #influencer #media #sosial #Indonesia, #selebgram dan #TikToker yang dikenal karena konten pengalamannya bekerja dan tinggal di luar negeri serta pandangannya yang kerap viral di berbagai isu publik. Berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, Irwan telah menarik perhatian jutaan pengguna media sosial karena konten edukatif, motivasi, serta opini kontroversialnya tentang topik ekonomi dan kebijakan publik, termasuk dukungannya terhadap kenaikan PPN 12 persen di Indonesia yang menuai pro dan kontra besar di komunitas online.
Baca juga: Profil Lengkap Konten Kreator Kuliner Viral Yudha Pangestu
Siapa Irwan Prasetiyo? Profil & Biodata Lengkap

Nama Lengkap: Irwan Prasetiyo
Profesi: Influencer, TikToker, Selebgram, Wiraswasta
Asal: Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia
Kewarganegaraan: Indonesia
Agama: Kristen
Platform Media Sosial:
- TikTok: @irwanprasetiyo
- Instagram: @irwanprasetiyo
- YouTube: irwan.prasetiyo
Tidak banyak informasi publik yang tersedia mengenai tanggal lahir maupun data fisiknya (tinggi badan, berat badan). Namun, Irwan dikenal aktif membagikan kesehariannya dan perjalanan kariernya melalui berbagai kanal online.
Baca juga: Tassy – Selebgram & TikToker Traveling Indonesia
Pendidikan & Karier Profesional
Irwan menempuh pendidikan tingginya di Universitas Kristen Petra, Surabaya dengan jurusan Ilmu Komputer, kemudian melanjutkan studi ke Hochschule Furtwangen University di Jerman, jurusan Bisnis. Selama di luar negeri, ia juga mengikuti program pertukaran pelajar di Xiamen University, China.
Perjalanan kariernya dimulai dari magang di Adidas di Jerman. Ia kemudian naik pangkat dan menduduki beberapa posisi strategis hingga menjadi Senior Manager di Adidas Amerika Serikat, khususnya di bidang finance dan controlling.
Selain karier profesionalnya, Irwan juga mengembangkan usaha dan platform bernama Budhal, serta menjadi content creator yang aktif menjelaskan pengalaman kerja migrasinya kepada audiens global.
Fenomena Viral: Pendukung PPN 12 Persen
Salah satu momen paling kontroversial dalam karier Irwan di media sosial terjadi pada akhir Desember 2024, ketika ia menyatakan dukungan atas rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% ke 12% di Indonesia. Opini ini ia sampaikan melalui video dan unggahan yang menjadi viral di TikTok dan X, mengundang respons tajam dari netizen serta beberapa figur publik.
Menurut Irwan, kenaikan PPN dapat membantu meningkatkan pendapatan negara yang berguna untuk pembangunan dan kesejahteraan publik, dengan alasan bahwa banyak warga Indonesia belum secara konsisten membayar pajak penghasilan. Pernyataan ini memicu beragam tanggapan, baik kritik maupun dukungan, serta diskusi luas mengenai peran influencer dalam wacana kebijakan publik.
Fakta Menarik & Kontroversi
Selain dikenal karena pengalaman dan kariernya, Irwan juga memiliki sejumlah cerita perjalanan hidup yang menarik dan pernah menjadi sorotan publik:
- Pernah bekerja di berbagai profesi sederhana sebelum berkuliah, termasuk sebagai pencuci piring saat membayar tanggungan atas kejadian kebakaran apartemen di Jerman.
- Naik dari berbagai posisi hingga menjadi senior manager di Adidas.
- Kontennya mencakup perbandingan kehidupan di luar negeri dengan Indonesia yang sering memicu diskusi sosial.
- Viral karena konten dukungannya terhadap PPN 12 persen dan provokasi opini yang memicu debat netizen.
Kontroversi & Opini Publik
Pendapat Irwan tentang PPN 12% memicu kritik dari beberapa tokoh dan netizen yang menilai pernyataannya tidak relevan dengan kondisi mayoritas warga Indonesia. Beberapa pihak bahkan menudingnya sebagai buzzer atau figur yang memengaruhi opini publik demi agenda tertentu. Namun, diskusi ini tetap menjadi bagian penting dari percakapan sosial media di era digital saat ini.
Baca juga: Profil Lengkap Annisa Rama Dewi: Selebgram Bangka Belitung
Kesimpulan: Konten, Karier, dan Dampak Sosial
Irwan Prasetiyo adalah contoh figur creative influencer Indonesia yang berhasil menjangkau jutaan pengikut lewat kisah hidupnya, perjalanan karier internasional, serta opini sosial yang kuat. Walaupun tidak lepas dari kritik dan kontroversi, kehadirannya memperkaya perbincangan publik tentang pengalaman migrasi kerja, pajak, dan realitas globalisasi dalam era digital.











